Kisah Sukses Pengusaha Tempe

    Home / Bisnis / Kisah Sukses Pengusaha Tempe

Kisah Sukses Pengusaha Tempe

0

Kisah Sukses Pengusaha Tempe

Di umur muda Muhammad Rusyad Isnadi (34) telah mencatat keberhasilan sebagai entrepreneur. Karena tempe mentega produksinya, ia dapat memperoleh keuntungan minimum Rp 400. 000 /hari. Tidak aneh ia tak tertarik lagi jadi pegawai negeri.

Isnadi, warga Dusun Wiyoro, Baturetno, Banguntapan, Bantul, mengawali usahanya sesudah gempa dahsyat menempa lokasi Daerah Istimewa Yogjakarta (DIY) pada th. 2006. Terlebih dulu, ia malang melintang jadi tenaga pemasaran bahan pokok ke pasar-pasar.

Jemu jadi tenaga pemasaran yang selalu bergerak ke semua pasar, ia turut bekerja ditempat adiknya.

”Saya turut bikin tempe ditempat adik lantaran bingung ingin kerja apa, ” tuturnya waktu didapati ditempat usahanya sekian waktu lalu.

Sesudah cukup kuasai tehnik pembuat tempe kedelai, Isnadi mengambil keputusan bangun usaha sendiri.

”Kalau lama-lama turut ditempat adik saya, takut jadi beban. Jadi, mending buka usaha sendiri. Ketentuan itu saya ambillah sesudah saya meyakini dapat bikin tempe sendiri, ” katanya.

Seperti yang umum berlangsung, awal usaha yaitu bebrapa saat paling sulit. Ia mesti pasarkan tempe sendiri ke pasar-pasar.

Dari tiap-tiap tiga orang yang ditawari paling cuma satu yang ingin terima titipan tempe. Walau banyak tidak diterima, ia tak menyerah.

”Pengalaman bekerja sebagai tenaga pemasaran bikin saya tak kecil hati walau tidak diterima banyak penjual. Yang utama janganlah malu tawarkan. Nyatanya prinsip saya itu membawa hasil, ” tuturnya.

Sepanjang dua th. bikin tempe, usaha Isnadi tak alami perubahan bermakna. Keadaan itu membuatnya penasaran.

Ia punya mimpi mempunyai usaha tempe yang berhasil. Satu saat ia bercerita keadaannya itu pada seseorang rekan.

”Teman saya merekomendasikan supaya saya coba mencampurkan tempe dengan mentega. Idenya memanglah konyol, namun pada akhirnya saya cobalah, ” tuturnya.

pengusaha-tempe

Lebih gurih serta lezat

Mentega ditambahkan waktu sistem peragian tempe. Karena penambahan mentega, tempe kedelai Isnadi jadi lebih gurih serta lezat.

Tanggapan pasar juga begitu positif. Keinginan terlebih datang dari warung-warung makan di sekitaran kos-kosan mahasiswa serta penjual gorengan.

Saat ini, sehari-hari Isnadi menghasilkan 6 kuintal kedelai. Dari jumlah itu didapat sekitaran 2. 200 potong tempe seharga Rp 3. 000 per potong.

Dibanding dengan tempe lain, harga produksi tempe Isnadi lebih mahal. ”Kalau tempe lain paling di jual sekitaran Rp 2. 000 per potong. Walau lebih mahal, nyatanya permintaannya malah naik selalu, ” tuturnya.

Omzet Isnadi /hari Rp 4 juta-Rp 5 juta. Dia mesti mengerahkan 31 karyawannya yang beberapa besar yaitu tetangga sekitaran tempat tinggalnya. Penyerapan tenaga kerja yang cukup tinggi bikin Isnadi disukai beberapa tetangganya.

Untuk masalah penjualan, Isnadi mempunyai 19 tenaga pemasaran. Mereka di beri kelonggaran mengambil keuntungan hingga 10 % dari harga jual. Mereka juga terima duit bensin Rp 2. 500 /hari serta duit pergantian oli tiap-tiap bln..

”Tingginya keinginan bikin kami kewalahan memasok ke pasar-pasar tradisional. Beberapa tenaga pemasaran telah mempunyai pelanggan tetaplah, yang beberapa besar berbentuk tempat tinggal makan, ” tuturnya.

 

sumber : http://gerobakunik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *